Masjid Kagungan Dalem Keraton “Saka Tunggal” Yogyakarta

Penulis: Anisah Rizki Paramita
Editor: Cerry Surya Pradana

KATA PENGANTAR

     Masjid Keraton Saka Tunggal terletak di Kompleks Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini selesai dibangun pada tanggal 1 September 1972. Latar belakang dibangunnya masjid tersebut merupakan inisiatif masyarakat yang menginginkan adanya sebuah masjid untuk tempat ibadah karena sebelumnya masyarakat menggunakan bagian bangunan dari Taman Sari untuk beribadah. Masjid Kagungan Dalem Saka Tunggal terletak di Kompleks Keraton Kesultanan Yogyakarta, tepatnya Jalan Taman 1 No. 318, Patehan, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mudahnya, lokasi masjid ini berada di depan pintu masuk Tamansari. Atau lebih tepatnya, di sebelah selatan gerbang masuk ke area parkir Tamansari Yogyakarta. Masjid ini diberi nama Saka Tunggal, karena hanya ada satu saka (Jawa: tiang) yang berada di bagian dalam masjid tersebut, di mana umumnya masjid-masjid tradisional memiliki empat buah saka pada bagian dalam masjidnya.

LATAR BELAKANG

     Pembangunan masjid Saka Tunggal diresmikan oleh paduka Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada Rabu Pon, tanggal 28 Februari 1973 pukul 20.00 WIB. Kepanitian dibentuk guna memudahkan pembangunan Masjid Saka Tunggal.  Panitia awal dibentuk pada tanggal 21 Agustus 1967 yang diketuai oleh Imam Suhadi, S.H.  Hasil kepanitiaan tersebut mendapatkan Paring Dalem berupa tanah wakaf dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX seluas 900m2. Pada tanggal 27 Oktober 1970 dibentuklah kepengurusan kepanitiaan baru yang dipimpin oleh H. GBPH. Prabuningrat. Inti dari program baru tersebut adalah menggalang dana kepada pemerintah Republik Indonesia.

  Pada tanggal 5 Maret 1971, Presiden Soeharto berkenan untuk memberi bantuan dana sebesar Rp 5.670.000,00, diikuti dengan bantuan keduanya pada tanggal 4 April 1972 yang memberi tambahan dana sebesar Rp 2.031.000,00 di Jakarta, sehingga total seluruhnya berjumlah Rp 7.701.000,00.

KEUNIKAN

  • Keadaan Fisik Bangunan dan Maknanya

     Bangunan masjid Saka Tunggal direncanakan seluruhnya oleh R.Ng. Mintoboedojo (baca: Mintobudoyo) dengan luas masjid 10m x 16m dan serambi 8m x 6m, seluruhnya (dengan tanah) berjumlah 288m2. Keadaan fisik bagunan memiliki artinya masing-masing. Arsitek masjid ini bermaksud agar setiap orang yang shalat dikarunai kebahagiaan dunia dan akhirat. Bangunan pokok masjid mempunyai 4 buah Saka Brujung, Saka Bentung 4 buah, Saka Guru 1 buah, sehingga semuanya berjumlah 9 buah.

     Dengan demikian, untuk memperingati berdirinya masjid ini, dibuatlah sengkalan memet[1]  yang berbunyi, “Manunggaling Para Wali Hangreksa Agama” yang berarti sengkalan tahun 1391 Hijriah. sengkalan berikutnya terdapat pada bahu dan yang (krebil) berbunyi, “Parijata Datan Pisah Ekar Lelata”, yang berarti sengkalan tahun 1903 Saka / Jawa. Sengkalan yang lain terdapat pada ukuran singup (tutup uleng), pada keempatnya berbunyi, “Ron Sapto Sekar Lelata”, yang berarti sengkalan tahun 1971 Masehi. Adapun mengenai selesainya bangunan Masjid Saka Tunggal ini diberi sengkalan lombo sebagai berikut:

Hanembah Trus Gunanging Janmo”
(1392 Hijriah)

“Catur Doso Hamengku Soko”
(1904 Saka/Jawa)

Nayono Resi Anngotro Gusti
(1972 Masehi)

  • Lambang Kekuatan Bangunan dan Maknanya

     Jika para jama’ah duduk di masjid, maka empat (4) buah Saka Bentung dan satu (1) Saka Guru akan terlihat. Semuanya berjumlah lima (5) buah, yang melambangkan Pancasila, sedangkan Saka Guru merupakan lambang sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

[1] sengkalan dibagi dua, yaitu sengkalan memet dan sengkalan lamba. Sengakalan merupakan penulisan tahun dalam Tradisi Jawa. Sengakalan memet merupakan berupa gambar yang dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki makna tahun tertentu. Sengkalan lamba sama dengan sengkalan memet, namun dalam bentuk kalimat, bukan gambar.

Saka Guru
(Sumber: Dokumentasi Anisah Rizki P)

     Usuk Sorot yang memusat seperti jari-jari payung atau disebut juga dengan Peniung, merupakan lambang kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.

   Umpak Raksasa merupakan landasan utama dari seluruh kekuatan bangunan pokok. Berdasarkan narasumber, umpak atau batu penyangga tiang ini, diambil dari Desa Kerta, sebelah barat Keraton Pleret, tempat di mana Sultan Agung (Raja ke-3 Dinasti Mataram Islam) bertahta. Bentuk ukiran umpak pun mengandung arti dalam Islam.

Ukiran pada masjid Saka Tunggal mempunyai arti tertentu, untuk kewibawaan dan keindahan. Contohnya:

  1. Ukiran Probo berarti bumi, tanah, kewibawaan.
  2. Ukiran Saton berarti menyendiri, sawiiji.
  3. Sorot berarti sinar matahari.
  4. Tlacapan berarti panggah, tabah, dan tangguh.
  5. Ceplok berarti maejan, bahwa semuanya kelak akan dipanggil oleh Allah SWT.
  6. Lung-lungan Bunga berarti air suci, maka dinamai ukriran tetesan embun. Siapa yang shalat di masjid ini semoga mendapat anugerah Allah SWT.

Makna bentuk bangunan atau konstruksi, contohnya:

  1. Bahu Dayung berarti orang yang kuat dalam menghadapi godaan iblis angkara murka yang datangnya dari empat penjuru.
  2. Sunduk berarti menjalar untuk mencapai tujuan.
  3. Santen berarti suci (kejujuran).
  4. Uleng berarti wibawa.
  5. Bandoga berarti hiasan pepohonan tempat harta karun.
  6. Tawonan berarti penuh.

Makna Kekuatan rangka, contohnya:

  1. Saka Burjong berarti lambang mencapai keluhuran berwibawa.
  2. Dudur berarti lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup.
  3. Sirah Godo berarti lambang kesempurnaan senjata yang ampuh, baik jasmani maupun rohani.
  4. Mustaka berarti lambang keluhuran dan kewibawaan.

Bagian Atap Masjid
(Dokumentasi: Anisah Rizki P)

     Secara keseluruhan, R.Ng. Mintoboedojo, sebagai penciptanya, ingin menyampaikan pelajaran tentang arti dan tujuan manusia hidup di dunia, yakni untuk mencapai kesempurnaan hidup. Barang siapa yang mempunyai cita-cita luhur tidak tercela dan ingin diridhoi oleh Allah SWT., maka harus mempunyai pikiran yang wening (jernih) dan sawiji (menyatu), dapat mengusir semua godaan dalam tubuh, yaitu aluamah, amarah, mutmainah, dan sufiyah. Setelah dapat menguasai godaan-godaan, jiwanya harus bersih, demi mencapai tujuan agar mendapat ketenteraman, kebahagiaan dunia dan akhirat, yang diridhoi oleh Allah SWT. Untuk mencapai cita-cita yang luhur dan berwibawa serta disegani, maka harus bijakasana, cerdas, berbudi luhur, sepi ing pamrih rawe ing gawe (kerja keras tanpa banyak mengharapkan imbalan). Selain itu, manusia juga harus sadar bahwa pada suatu saat dirinya akan dipanggil oleh Allah SWT. Oleh karena itu, marilah berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan supaya kelak dapat selamat dunia dan akhirat.

PEMANFAATAN MASA KINI

Jamaah sedang melaksanakan Shalat Fardu
(Sumber: Dokumentasi Anisah Rizki P)

     Bangunan Masjid Saka Tunggal masih asli dan tidak boleh dirubah apapun, kecuali saat dua kali renovasi pada tahun 1995 dan 2013. Maka, untuk memenuhi kegiatan di masjid tersebut, dibangunlah rest area yang merupakan penunjang dari masjid Saka Tunggal. Seiring berjalannya waktu, jamaah sampai hari ini cukup banyak mulai dari jamaah Shalat Jumat maupun Jamaah Shalat Fardu. Juga semakin banyaknya kunjungan di Tamansari, maka semakin banyak pula pengunjung Tamansari yang mampir untuk sholat di Masjid Saka Tunggal. Jadi, jagan lupa mampir ke masjid ini jika kalian pergi ke Tamansari ya.

TIKET MASUK

   Memasuki Masjid Saka Tunggal sama sekali tidak dikenakan biaya masuk, sama seperti masjid lain pada umumnya. Namun jika ada rezeki lebih, sekiranya jika berkenan dapat dimasukkan ke dalam kotak infaq yang terdapat di masjid tersebut.

DENAH LOKASI

DAFTAR LITERATUR

Muhammad. (2018). Masjid Saka Tunggal, diakses dari https://www.localguidesconnect.com/t5/General-Discussion/Masjid-Saka-tunggal/td-p/1177617 , pada tanggal 25 Nov 2019.

Nanang, Sang. (2018). Masjid Saka Tunggal Taman Sari Yogyakarta, diakses dari https://sangnanang.com/2018/05/18/masjid-saka-tunggal-taman-sari-yogyakarta/ , pada 25 Nov 2019.

Sportourism. (2016). Makna di Balik Simbol Bangunan Masjid Soko Tunggal Yogyakarta, diakses dari https://sportourism.id/tourism/makna-di-balik-simbol-bangunan-masjid-soko-tunggal-yogyakarta , pada 18 Januari 2020.

Suharyani, Tri. (2016). Bentuk dan Makna Simbolik pada Arsitektur Masjid Kraton Saka Tunggal, Taman Sari, Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Thohari, Hamim. (2016). Masjid Keraton Soko Tunggal, Masjid Unik di Yogyakarta yang Hanya Punya Satu Tiang, diakses dari https://www.tribunnews.com/travel/2016/06/13/masjid-keraton-soko-tunggal-masjid-unik-di-yogyakarta-yang-hanya-punya-satu-tiang?page=all , pada 18 Januari 2020.

NARASUMBER

Drs. H. Suprapto, M.Pd., Takmir Masjid Sakatunggal

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.